BPS Verifikasi Ulang Penerima PBI BPJS Kesehatan 2026

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:04:58 WIB
BPS Verifikasi Ulang Penerima PBI BPJS Kesehatan 2026

JAKARTA - Verifikasi ulang data penerima bantuan iuran BPJS Kesehatan kembali menjadi perhatian publik. 

Di tengah upaya pemerintah membenahi akurasi data sosial, Badan Pusat Statistik mengambil peran penting dengan melakukan pengecekan lapangan terhadap jutaan keluarga yang status kepesertaannya sempat dinonaktifkan. 

Langkah ini tidak hanya soal administrasi, tetapi juga menyangkut hak masyarakat untuk tetap memperoleh perlindungan kesehatan yang layak.

Melalui pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional, pemerintah berupaya memastikan bahwa bantuan benar-benar diterima oleh mereka yang membutuhkan. 

Proses ini dinilai krusial karena kesalahan data berpotensi membuat kelompok rentan kehilangan akses layanan kesehatan. BPS pun menegaskan verifikasi dilakukan secara bertahap dan berbasis indikator kesejahteraan yang komprehensif, bukan sekadar pendapatan.

Langkah Verifikasi Lapangan BPS

Badan Pusat Statistik akan melakukan verifikasi ulang penerima Penerima Bantuan Iuran BPJS Kesehatan. Proses ini dilakukan sebagai bagian dari pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional. 

Kepala BPS Amalia Adininggar menjelaskan bahwa verifikasi dan validasi data di lapangan atau ground check akan menyasar 5,9 juta keluarga dari sekitar 11 juta orang penerima manfaat PBI dengan status non-aktif.

Sebelumnya, BPS juga telah melakukan pengecekan ulang terhadap kelompok rentan dengan kondisi penyakit berat. Sebanyak 106.153 penderita katastropis penerima manfaat PBI telah diaktivasi kembali agar tetap dapat mengakses layanan kesehatan.

"106.153 orang ini sudah direaktivasi secara otomatis oleh BPJS Kesehatan, sehingga mereka tetap bisa berobat. Berikutnya, tentang rencana kami untuk melakukan ground check terhadap kira-kira 5,9 juta keluarga atau ini yang berasal dari 11 jutaan orang yang dinonaktifkan PBI-nya, atau kalau kami konversi terhadap keluarga ini sekitar 5,9 juta keluarga," terang Amalia.

Langkah ini menunjukkan bahwa pemutakhiran data tidak dilakukan secara kaku, melainkan mempertimbangkan kondisi riil masyarakat di lapangan. Pemerintah ingin memastikan tidak ada warga yang semestinya berhak justru terlewat dari perlindungan jaminan kesehatan.

Pendekatan Data Berbasis Kesejahteraan

Dalam proses verifikasi, BPS menegaskan bahwa pengkategorian desil tidak ditentukan semata-mata dari pendapatan. Desil merupakan pembagian kelompok kesejahteraan masyarakat menjadi 10 kelompok yang diurutkan berdasarkan tingkat kesejahteraan. Dengan pendekatan ini, penilaian tidak bersifat satu dimensi, melainkan menyeluruh.

Amalia menjelaskan bahwa terdapat sekitar 40 variabel yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan keluarga. Variabel tersebut meliputi kepemilikan aset, kondisi rumah, hingga konsumsi listrik.

"Jadi sebetulnya ada 39-40 indikator kesejahteraan yang digunakan untuk menyusun kesejahteraan setiap keluarga. Rumah pun dilihat dari atap, dari kondisi dinding, lantai, luas rumah per kapita dan seterusnya. Lalu juga pengeluaran listrik. Jadi intinya memang itu bukan menjelaskan tentang pendapatan, tetapi menjelaskan bagaimana tingkat kesejahteraan yang disusun berdasarkan berbagai faktor atau indikator tadi," jelas Amalia.

Pendekatan ini dinilai lebih adil karena mampu menangkap kondisi sosial ekonomi masyarakat secara lebih utuh. Dengan demikian, kebijakan penentuan penerima bantuan tidak bias hanya pada angka pendapatan, tetapi mempertimbangkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Dampak Akurasi Data bagi Akses Kesehatan

Pemutakhiran data penerima PBI memiliki dampak langsung terhadap akses layanan kesehatan masyarakat. Ketika data tidak akurat, kelompok yang seharusnya menerima bantuan bisa kehilangan haknya. Sebaliknya, bantuan bisa salah sasaran jika penerima sebenarnya sudah tidak lagi memenuhi kriteria.

Dengan melakukan ground check, BPS berupaya memperbaiki potensi kesalahan tersebut. Langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan program jaminan kesehatan nasional, sekaligus memastikan anggaran negara digunakan tepat sasaran. Akurasi data juga membantu pemerintah merancang kebijakan kesehatan yang lebih responsif terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Proses ini juga mencerminkan upaya memperkuat tata kelola bantuan sosial. Pemutakhiran DTSEN diharapkan menjadi basis data tunggal yang andal untuk berbagai program perlindungan sosial, sehingga koordinasi antarinstansi lebih efektif dan minim tumpang tindih.

Peran Masyarakat dalam Proses Validasi

BPS menegaskan bahwa proses ground check akan dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah. Petugas akan mendatangi keluarga penerima manfaat untuk memverifikasi kondisi riil di lapangan. Keberhasilan proses ini sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dalam memberikan informasi yang benar dan akurat.

Amalia mengimbau masyarakat untuk bersikap kooperatif ketika petugas BPS melakukan pendataan.

"Kita pesan kepada masyarakat, kalau didatangi oleh petugas kami mohon kiranya memberikan informasi yang tepat, yang benar, sehingga nanti kami bisa mendapatkan data yang akurat," pungkasnya.

Partisipasi masyarakat menjadi kunci agar pemutakhiran data tidak hanya menjadi prosedur administratif, tetapi benar-benar mencerminkan kondisi sosial ekonomi di lapangan. Dengan data yang akurat, kebijakan jaminan kesehatan dapat berjalan lebih tepat sasaran, adil, dan berkelanjutan.

Terkini